2079. Bangsa Yang Tidak Mampu Menguji Keaslian Ijazah?

11-09-2026

Tekhnologi sudah berkembang sedemikian rupa sehingga temuan-temuan fosil-pun sudah bisa diuji berapa puluh ribu, ratus ribu, bahkan juta tahun usianya. Bagi penggemar serial TV CSI, tentu sangat paham bagaimana pembuktian sebuah kasus melalui pendekatan saintifik. Tentu itu hanya sebuah film, tetapi di dunia nyata nampaklah tidak jauh-jauh amat, bahkan sangat mungkin sudah sedemikian majunya. Kadang-kadang dalam kasus ijazah palsu di republik kemudian dicontohkan ketika Obama dituduh tidak dilahirkan di tanah Amerika dan sebagai konsekuensinya ia tidak boleh mencalonkan diri dalam pemilihan presiden. Tanpa harus melalui pembuktian saintifik, Obama langsung memberikan ijin untuk rilis surat kelahirannya dan langsung terbukti bahwa Obama memang lahir di tanah Amerika, dan siap saja bagi siapa saja yang mau menguji (secara saintifik, misalnya) surat keterangan kelahiran tersebut. Kasus selesai.

Kita bisa membayangkan putusan atau sikap Obama untuk membuka data kelahirannya itu adalah soal ‘soft power’ sedangkan pembuktian melalui metode-metode saintifik adalah ‘hard power’-nya. Jika kemudian masuk pengadilan, proses pengadilan itu sebenarnya adalah salah satu bentuk ‘soft power’ sedangkan bagaimana sains ikut terlibat dalam pembuktian, sekali lagi bisa kita bayangkan sebagai ‘hard power’-nya. Tentu ada faktor ‘hard power’ yang telanjang seperti misalnya todongan senjata pada hakim, jaksa, pembela, dan semua saja yang terlibat dalan proses pengadilan tersebut. Atau yang lebih ‘lunak’, dengan kekuatan uang.

Sudah tak terhitung kasus ijazah palsu itu dikaitkan dengan sikap kenegarawan, atau kehormatan, tetapi tidak mempan juga. Sik-individu yang bermasalah itu tidak peduli lagi apakah ia mau dikatakan bukan negarawan atau tidak. Punya kehormatan atau tidak. Kali ini kita coba singgungkan pada istilah ‘soft power’ dan ‘hard power’ seperti sudah disinggung di atas, yang akan mempunyai konsekuensi besar dalam hidup bersama di republik.

Konsep ‘soft power’ dan ‘hard power’ diajukan oleh Joseph Nye Jr. Kalau memakai pembedaan Alvin Toffler, ‘soft power’ dekat dengan kekuatan pengetahuan, sedangkan ‘hard power’ dekat dengan kekuatan uang dan (terutama) kekerasan. Tentu ini sekedar penyederhanaan saja. Jika di atas pembuktian saintifik dalam uji keaslian ijazah disebut sebagai ‘hard power’ itu lebih karena ia akan memakai perangkat-perangkat uji laboratorium atau alat-alat lainnya. Tidak hanya modal ‘maksud baik’ atau ‘subyektifitas’ saja.

Judul Bangsa Yang Tidak Mampu Menguji Keaslian Ijazah dimaksudkan sebagai kekhawatiran jangan-jangan kita sedang terjerembab pada rusaknya soft power dan hard power kita. Hari-hari ini ada perhatian ketika sik-T yang seskab itu main-main pulpen saat ikut dalam pembicaraan bilateral antara Indonesia dan Rusia. Ketika Putin, presiden Rusia, sedang bicara, ia yang ikut berhadap-hadapan dengan jarak tidak lebih dari 3 meter, malah main-main dengan pulpennya. Ini tidaklah sesederhana sekedar main-main pulpen saja, tetapi juga bisa dilihat sebagai salah satu puncak gunung es dari hancurnya soft power republik. Tak jauh beda dengan laku asal mangap, asal njeplak, asal usir, dan ini: asal main pulpen. Belum lagi bagaimana pendidikan terus saja dirusak, termasuk juga perguruan tingginya. Atau bagaimana kekayaan adat di republik justru ditelikung hanya untuk main raja-raja-an. Terlalu banyak soft power yang dirusak, termasuk di sini adalah soal (budaya) meritokrasi.

Ketika Joesph Nye Jr. bertanya kepada Donald Rumsfeld, Menteri Pertahanan AS (1975-1977, dan 2001-2006) tentang ‘soft power’, Rumsfeld menjawab singkat: “I don’t know what ‘soft power’ is.” Wajar sebenarnya Rumsfeld menjawab begitu karena bidangnya memang gelut, berkelahi. Apalagi ia dari ‘super-power’. Dari pengalaman bertahun terakhir di republik dan apa-apa yang terjadi di tingkat internasional, jika kita bicara ‘soft power’ dan ‘hard power’, ke dalam negeri semestinya yang maju di depan adalah soal-soal ‘soft power’, sedangkan ketika ‘melihat’ situasi di luar, yang maju pertama adalah ‘hard power’. Bukannya terus maunya ngajak kelahi saja, tetapi analisis pertama-tama adalah soal hard power, tentang kesiapan menghadapi perang, dan juga soal ekonomi ketika ekonomi bisa saja berubah menjadi faktor penekan.

Tetapi focus tulisan ini adalah soal soft power. Dan semakin nampak saja sejak 12 tahun lalu ini (soft power) secara terstruktur, sistematis, dan massif sedang dihancurkan. Tidak percaya? Lihat saja bagaimana sik-individu ‘pemegang’ kasus ijazah palsu itu pethakilan. Dari situ saja sudah jelas ia adalah juga kacung yang sedang ditugaskan merusak republik. Tidak yang lainnya. Ujungnya? Penguasaan, mau apa lagi? *** (11-09-2026)