2084. 17 Agustus Sebaiknya Libur Dua Hari
17-09-2026
“Orang yang tidak menghargai buku umumnya tidak peduli menjaga sesuatu tetap utuh.” (Lady Heather, CSI S6 Ep16)
Judul dimaksudkan sebagai upaya ‘penyelamatan’ momentum terpenting perjalanan republik, peringatan Proklamasi 17 Agustus. Kita lihat mulai rejim sebelum ini, Upacara Peringatan 17 Agustus telah digeser menjadi ugal-ugalan seakan sedang dihilangkan sifat khidmat dan ‘sakral’-nya. Dibuat lebih sebagai ‘main-main’ saja. Dan ternyata masih saja melanjut sampai sekarang meski sudah berganti rejim. Nampaknya orang-orang komunikasi rejim terdahulu masih saja menyesaki sekitar kekuasaan sehingga maunya masih saja melanjutkan upaya atau skenario de-sakralisasi Upacara Peringatan 17 Agustus itu. Berbagai cara dilakukan, intinya jangan sampai Upacara Peringatan 17 Agustus itu bisa menjadi pusat inspirasi bagi bangsa dalam menghayati republik. Inilah sebenarnya penghancuran paling brutal terhadap soft power republik yang dilakukan oleh rejim sebelum ini. Maka usulan untuk melawan ini, buat 17 Agustus menjadi dua hari libur, tanggal 17 dan 18 Agustus. Tanggal 17 Agustus focus pada ke-khidmatan dan kesakralan peringatan Proklamasi, sedangkan 18 Agustus perayaannya, dalam berbagai bentuknya.
Libur dua hari itu juga bukan hanya untuk melawan kebrutalan rejim sebelum ini dalam menghancurkan soft power republik, tetapi juga melatih diri kita semua akan adanya bermacam ranah, dan menghayati perbedaannya. Kemampuan ini penting karena bisa saja itu menjadi syarat utama mengapa modernisme doeloe itu menjadi ada. Menjadi mampu meloloskan diri dari ‘kurungan-sihir’ dan semakin mampu pula mencari hal-hal mendasar dari bermacam hal. Bagi yang demen dengan feodalisme, tentu kemampuan ini mempunyai potensi besar akan mengusik-mengganggu. Tidak hanya itu, jika kita mengikuti pendapat Platon tentang keadilan, kemampuan untuk menghayati bermacam ranah itu bisa-bisa akan mendorong pula berkembangnya kemampuan untuk mendeteksi dini akan adanya potensi ketidak-adilan. Menurut Platon, keadilan akan lebih bisa didekati jika masing-masing menjalankan fungsi dan tanggung jawab sebaik-baiknya.
Mampu menghayati bermacam ranah perlulah kemampuan ber-imajinasi yang sebenarnya itu akan beririsan dengan keberpikiran. Karena imajinasi-imajinasi yang abstrak itu pada ujungnya akan dikomunikasikan pula, dengan apa? Dengan bahasa. Meski sebagian besar bahasa itu akan digunakan dengan modus taken for granted, tetapi bagaimanapun juga dari sono-sononya, berpikir itu mendahului bahasa. Itulah ketika bahasa mewujud dalam sebuah retorika yang benar, ia perlahan akan mengajak pula yang mendengar untuk berpikir. Sudah cukup lama kita melihat contoh retorika a la Trump dan sayap kanan-jauh pada umumnya, serta contoh lain dari Xi Jinping atau Mark Carney. Yang a la Trump lebih lekat dengan gejolak hasrat, yang lain terkontrol dengan logika yang ketat.
Dan jangan berpikir bahwa yang terkontrol dengan logika ketat itu akan pasti menang. Lihat bagaimana ketika gejolak hasrat yang ada di bagian tidak sadar itu di-eksploitasi sedemikian rupa ternyata bisa menggelapkan sejarah seperti jaman Nazi doeloe itu. Dan sayangnya paling tidak sejak 12 tahun terakhir ini republik lebih dikelola dengan mainan utamanya: hasrat. Atau tepatnya bagaimana hasrat dimainken secara ‘eksploitatif’. Jika kita tidak punya hasrat maka bisa saja akan loyo, tetapi dalam mode bablasan-nya? Di ranah publik?
Kutipan di awal tulisan “orang yang tidak menghargai buku umumnya tidak peduli menjaga sesuatu tetap utuh,” memang hanya dari sebuah serial TV, CSI.[1] Tetapi apakah karena ini maka kita bisa membayangkan ketika kekuasaan itu di tangan orang yang tidak mampu menghargai buku maka dengan enteng-enteng saja ia akan memecah belah? Bahkan ‘keutuhan peringatan 17 Agustus’-pun kemudian dipecah-belah juga dengan tanpa beban? Tetapi bagaimana dengan sebaliknya, akankah orang yang sangat-sangat menghargai buku maka ia menjadi begitu peduli sekali untuk menjaga keutuhan? Dan bablas menjadi seorang Hitler, misalnya? Tidak mengherankan jika Marx pernah mengatakan bahwa para filsuf itu pandai mengintepretasikan dunia, tetapi yang lebih penting adalah mengubahnya. *** (17-09-2026)
2085. Bocil-Bocil Pembawa Malapetaka
18-09-2026
Menurut Ketua Mao, politik adalah perang tanpa pertumpahan darah. Sedangkan Sun Tzu mengatakan bahwa jika kamu tidak mengenal musuh maupun dirimu sendiri maka kamu akan kalah dalam setiap pertempuran. Jika kita lihat dari sisi aktor-aktor politik, maka pertanyaan bisa tetap diajukan, mengapa politik selalu saja kalah dalam pertempuran melawan para perampok kekayaan republik? Apakah karena tidak mengenal musuh? Musuh yang seperti apa? Yaitu musuh yang justru mengenal siapa ‘dirimu’. Dan justru pula dirimu yang ternyata tidak mengenal siapa sebenarnya kamu. Jadi mengapa kalah terus ya karena justru musuh-lah yang mengenal musuh dan mengenal dirinya sendiri, sehingga ia tidak perlu takut dengan hasil dari seratus pertempuran.
Artinya, kok ternyata menjadi begitu mudahnya dipermainkan. Bocil-bocil yang dimaksud dalam judul sebenarnya tidak tertuju pada usia, tetapi lebih pada tidak berpengalamannya dalam medan pertempuran yang tidak menumpahkan darah itu. Pengalaman dalam hal apa? Sekali lagi pertama-tama adalah mengenal diri dan mengenal musuh. Dari pengalaman bertahun terakhir, diri apa yang mesti dikenal? Dan sekali lagi dari pengalaman bertahun terakhir, yang perlu dikenal dari diri adalah (kesadaran) diri yang menurut Freud itu terdiri id, super-ego, dan ego. Tentu ada pembedaan lain yang lebih ‘muktahir’ tetapi dari Freud tersebut paling tidak bisa lebih sederhana untuk membuat ‘peta masalah diri’. Lalu dari ‘musuh’, apa yang mesti dikenali? Para perampok kekayaan republik itu bisa dikatakan mempunyai dana tak terbatas untuk membangun benteng pertahanan demi melindungi apa-apa yang sudah di tangan. Dan juga pengalamannya sudah lamaaa sekali. Dengan dana tak terbatas ia mampu membiayai bermacam studi termasuk karakter masing-masing aktor, dari bermacam disiplin ilmu. Lihat misalnya sebagai perbandingan, Cornell University itu punya jurnal yang namanya Indonesia, terbit dua kali setahun sejak 1966, dimana salah satu penerbitannya (dalam setahun itu) akan memuat ‘analisa’ promosi jabatan di militer Indonesia, entah kalau sekarang. Maka daftar aktor-aktor itu lengkap-se-lengkapnya mestinya ‘mereka’ punya, tidak hanya nama tentunya, karakter, hobinya sampai dengan kehidupan pribadi. Bahkan kasus-kasus-skandal yang nantinya bisa dipakai untuk ‘sandera kasus’.
Hampir dua tahun terakhir istilah ‘serakahnomics’ sering muncul, dan bagaimana posisinya dengan ungkapan Michael Douglas dalam Film Wall Street: “Greed is good”? Atau ungkapan Deng Xiaoping: “Menjadi kaya itu mulia?” Sebenarnya dengan Alegori Kereta-nya Platon lebih dari 2000 tahun lalu ‘peta masalah’ bisa menjadi lebih jelas. Berangkat dari konsep tripartite jiwa, Platon menggambarkan ada sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda, putih dan hitam. Ada sais dan sayap di kanan kiri kereta. Kuda putih menggambarkan kehendak (baik), terutama terkait dengan kehormatan yang di dada. Kuda hitam menggambarkan hasrat perut ke bawah, makan, minum, seks, dan terutama hasrat akan uang. Sais bisa dibayangkan sebagai kepala, tempat nalar atau rasio berada. Sayap di kanan kiri menggambarkan energi, semangat, atau katakanlah elan vital. Kuda hitam mempunyai karakter semau-maunya, cenderung tidak mudah nurut sais, energinya besar meledak-ledak, sayangnya maunya meluncur ke bawah saja. Padahal kereta semestinya baik ke atas untuk mendekati ‘kebaikan dewa-dewa’. Kuda putih sering dibayangkan Platon mewakili kelas serdadu, dan sebenarnya lebih mudah ikut maunya sais. Ketika Deng Xiaoping mengatakan menjadi kaya itu mulia atau juga soal tak masalah kucing hitam dan putih asal bisa menangkap tikus, dari Platon di atas sebenarnya ia bisa dilihat sedang melonggarkan kendali atas kuda hitam, dan menggunakan energi yang meledak-ledak untuk ikut mengentaskan ratusan juta keluar dari kemiskinan.
Maka pada siapa harus tertuju pertama-tamanya soal ‘serakahnomics’ ini? Dalam situasi perburuan-rente yang sudah luas dan mengakar ini, ‘serakahnomics’ itu pertama-tama adalah justru tertuju pada sik-sais. Sebenarnya bisa belajar dari sejarah Amerika Serikat terkait dengan penerapan spoils system yang dimulai oleh Andrew Jackson presiden AS ke 7 pada tahun 1829 dan kemudian dihentikan melalui Pendleton Civil Service Reform Act tahun 1883. Saat penerapan spoils system atau sistem patronase (yang menyingkirkan sistem meritokrasi) itulah apa yang disebut ‘serakahnomics’ di birokrasi sungguh terjadi secara telanjang dan brutal. Merebaknya pemburuan-rente di republik yang mulai dari soal hak pengelolaan hasil hutan itu sampai sekarang dan sudah beranak-pinak ini bisa dikatakan sudah berlangsung dalam kurun waktu sama antara ketika Andrew Jackson menerapkan spoils system sampai adanya Pendleton Act, sudah berlangsung 50 tahun-an.
Dulu jaman SBY ada Apel Washington Boys-Girls yang untung saja segera diamputasi. Sekarang? Kita sedang menyaksikan ‘jaringan anak muda’ yang sebenarnya sedang dipermainken habis-habisan. Mereka tak sadar sedang (ikut) membawa republik pada malapetaka yang mungkin saja tidak mampu mereka bayangkan. Ditipu melalui cara-cara yang sudah biasa dilakukan di republik ini, bagaimana rute ‘eksploitasi hasrat’ dimainken. Yang sebagian besarnya setelah itu ya akan bernasib seperti Ramirro de Orco seperti diceritakan oleh Machiavelli. Jika republik mau selamat, amputasi orang-orang yang tak mampu mengenali hasrat-hasrat yang digendong dalam diri, dalam id[1], termasuk juga ‘jaringan anak-anak muda’ itu. Jika tidak mampu mengenal dan mengendalikannya maka otak-otak cermelangnya akan tidak ada gunanya sama sekali. Secara ‘mudah’ kita bisa merasakan bahwa ternyata republik ini memang sedang dikelola oleh anak-anak saja. Tidak ada aura kedewasaan sama sekali. *** (18-09-2026)
[1] Antara lain yang ngendon di id, sexual desire, biological need, greed, aggression, immediate gratification, self-preservation, sudden emotional outbursts, jealousy, envy, addictive behaviors, impulsive actions, reckless behavior


2086. Growing Pains
19-09-2026
If a person or organization has growing pains, they experience temporary difficulties and problem at the beginning of a particular stage of development, demikian salah satu pengertian tentang ‘growing pains’ dari Collins Dictionary.[1] Pengertian ini diterjemahkan dalam serial TV empat-puluh tahun lalu secara cerdas dalam model sit-kom, Growing Pains.[2] Republik bertahun terakhir rasa-rasanya juga sedang ‘menerjemahkan’ pengertian ‘growing pains’ di atas dalam bermacam olah kuasa negara. Semakin ke sini semakin nampak saja bagaimana ke-kanak-kanak-annya dalam mengelola negara, hanya saja kok ya nggak tumbuh-tumbuh dan berkembang semakin dewasa saja. Justru malah semakin ke-kanak-kanak-an saja.
Anak-anak lebih banyak didorong oleh emosi, atau dalam banyak halnya yang ada dalam id. Masih jauh untuk juga menggunakan prinsip moralitas yang ada di super-ego maupun nalar atau rasio yang ada dalam ego yang berprinsip realitas itu. Tak mengherankan karena area otak yang bertanggung jawab atas logika, pengambilan putusan, berpikir analitis, memecahkan masalaah, merencanakan, mengontrol impuls, mengontrol emosi, perhatian, juga long-term planning, yaitu area pre-frontal cortex, baru berkembang lebih kompleks sekitar umur 12 tahun dan mencapai kematangannya pada usia sekitar 28 tahun. Atau bahkan 30 tahun. Maka bisa kita bayangkan juga ketika pre-frontal cortex ini mengalami regresi entah karena trauma atau umur maka yang terjadi adalah hal-hal sebaliknya dari yang disebut di atas atau bahkan kemudian bertingkah (kembali) seperti seorang anak-anak saja, coping via childlike behaviours, emotional outbursts, and loss of impulse control, poor decision-making.
Jika beberapa waktu lalu dinampakkan ketika seorang pejabat ‘bocil’ meringkasi mainan-mainannya dari kantornya, atau dinampakkan main-main gelang karet saat bertemu dengan ‘rakyatnya’, atau ada yang main-main pulpen di tengah pertemuan bilateral penting antar negara, atau yang seperti ini, ASPRI PRESIDEN MAIN KECAP[3], hal-hal seperti itu mestinya tidak kebetulan (dinampakkan) saja. Atau yang suka main raja-raja-an itu. Hal-hal ini juga bisa dilihat sebagai ‘pembiasaan’ terhadap laku-laku ke-kanak-kanak-an dalam ranah olah kuasa negara, melalui hal-hal ‘vulgar’ seperti itu. Yang tidak vulgar tentu banyaaak jika memakai bermacam ‘parameter’ seperti sudah ditulis di atas. Dalam politik maka sah kemudian jika ada yang bertanya, ketika olah kuasa negara itu dikelola dalam nuansa ke-kanak-kanak-an, siapa yang akan diuntungkan? Yang jelas republik yang kita cintai ini adalah pihak yang paling tidak diuntungkan. Tetapi jika pertanyaan diulang lagi, siapa yang akan diuntungkan? Semakin jelas jawabannya sebenarnya hari-hari ini, yang diuntungkan adalah yang selama ini telah, sedang, dan akan terus merampok republik.
Apa yang kemudian mesti dikerjakan untuk menapak growing pains ini ke arah benar, menjadi semakin dewasa, dan tidak justru menjadi ‘situasi-komedi’? Yang ‘sederhana’ dan mempunyai daya ungkit besar adalah memperbaiki ‘retorika’. Anak-anak lebih bisa dilatih berani bicara, tetapi seiring dengan bertambahnya usia maka tidak hanya berani bicara tetapi ber-retorika dengan benar. Platon lebih dari 2000 tahun lalu pasti tidak mengenal bahwa bagian pre-frontal cortex akan matang di usia 30 tahunan, tetapi dalam pendidikannya ia telah menempatkan ‘pelajaran’ dialektika (berdebat) di akhir pendidikan, dan biasanya di atas usia 30 tahun. Apa yang perlu diperhatikan dalam upaya ‘memperbaiki’ retorika? Pertama-tama adalah persepsi tentang audiens, yaitu berhentilah menganggap yang di depan itu adalah anak-anak yang semuanya pengin gula-gula atau permen. Atau hiburan, buaian, atau bahkan bualan yang memabokkan. Pastikan bahwa yang dihadapi itu adalah orang-orang dewasa, atau dianggap sudah dewasa.
Retorika secara oralitas itu sampaikan dengan tehnik ‘oralitas sekunder’ dalam arti dibantu dengan teks. Teks yang tidak hanya ‘zero defect’ tetapi juga disusun dengan logika ketat. Logika yang mana anak-anak pastilah ‘belum sampai’. Di jaman merebaknya ‘logika waktu pendek’ akibat banjir informasi melalui jaringan digital-internet, maka retorika yang ringkas, padat, dan tepat sasaran sangat diperlukan. Kurangi bahasa tubuh yang tidak perlu dan cenderung ‘ke-kanak-kanak-an’. Nggak usah banyak aèng-aèng. Dan jangan pernah ‘logika propaganda’ menjadi maju yang paling depan. Dan jangan lupa dalam persiapan retorika, orang-orang sekitar pastikan adalah orang-orang dengan aura kedewasaan yang sudah teruji. Jangan sampai justru orang-orang sekitar disesaki oleh yang masih banyak sifat ke-kanak-kanak-annya. Sehingga slip of tongue yang bisa merubah suasana positif jadi negative itu bisa dihindarkan. Tentu ini semua belum cukup, tetapi paling tidak jika itu dilakukan pains yang mengiringi grow itu akan terbayarkan pula akhirnya. Semoga. *** (19-09-2026)
[1] https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/growing-pains
2087. Dunia Kecil Yang Hilang
20-09-2026
Yang dimaksud dengan dunia kecil adalah mikrokosmos, a small place, society, or situation that has the same characteristics as something much larger.[i] Ketika terjadi letusan gunung berapi, binatang-binatang lari turun gunung dengan cepatnya. Panik dan tunggang-langgang. Manusia jaman doeloe-pun serta-merta akan ikut lari menjauh dari gunung. Dan pengetahuan-insting itupun diturunkan turun temurun. Tetapi manusia berhasil ‘mengambil jarak’ dan mulai melihat pola bahwa ketika ada binatang yang mulai turun gunung secara tergesa-gesa maka jangan-jangan gunung akan meletus. Untuk itu manusia kemudian mampu lebih siap menghadapi meletusnya gunung dibanding dengan binatang. Pada perjalanan lebih jauhnya, manusia tidak hanya mengamati pola perilaku binatang, tetapi juga menciptakan alat deteksi dini terhadap gempa dan kemudian membaginya dalam bermacam skala, untuk itu bermacam persiapan dilakukan untuk antisipasi ketika gempa benar-benar terjadi. Jadi katakanlah, dunia kecil manusia ternyata tidak hanya mampu mengambil relasi dengan dunia besar sekitar, tetapi ada satu kata kunci penting: antisipasi.
Maka dunia kecil manusia sebenarnya tidak pernah hilang, yang bisa hilang atau menipis adalah (kualitas) kemampuan antisipasi. Apakah hanya berhenti dalam modus taken for granted saja, atau juga didorong bermacam subyektifitas yang berkembang, atau melibatkan bermacam hal terukur seperti yang dinampakkan oleh alat deteksi dini gempa seperti contoh di atas. Sebagian besar hidup kita jalani dengan modus taken for granted saja. Tetapi kadang-kadang kita masuk dalam situasi yang tidak taken for granted, misal ketika per-hati-an begitu tersedot pada sahabat yang sedang ditangani di UGD, waktu terasa lama sekali atau lambat berjalannya. Atau ketika berita keracunan MBG berulang dan berulang hadir di depan mata. Bisa saja ini membuat per-hati-an kita menjadi lain dibanding ketika berita keracunan MBG baru terdengar satu-dua kali.
Jaman Orde Baru sering kita dengan narasi ‘manusia Indonesia seutuhnya’ yang kemudian dikaitkan dengan program P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), dilaksanakan salah satunya melalui penataran-penataran P4-nya. Dunia kecil masing-masing individu itu seakan sedang di-program ulang melalui bermacam penataran dan propaganda. Di-program ulang bahwa ketika binatang-binatang itu ramai-ramai turun gunung maka kita juga harus taken for granted ikut turun gunung biar selamat. Tetapi ketika perlahan subyektifitas mulai berkembang di sementara pihak dan di sana-sini, maka bermacam ‘pola’-pun mulai tersingkap. Bermacam ‘ukuran’-pun mulai ‘ditemukan’, ketersingkapan-pun semakin meluas.
Hari-hari ini semakin nampak saja bagaimana program ‘pedoman, penghayatan dan pengamalan konstitusi’ sedang dijalankan. Sayang seakan waktu diajak untuk ‘berhenti’, dan diminta dihayati hanya pada consciousness of internal time saja. Diminta menghayati dan mengamalkan konstitusi secara taken for granted saja. Atau jelasnya, menerima saja penjelasan dari penguasa secara taken for granted. Seakan subyektifitas lain tidak boleh muncul dan itu dinampakkan pada tudingan antek-antek asing, misalnya. Atau bahkan meng-goblok-goblok-kan pakar. Atau sekitar-sekitarnya. Juga bagaimana pendekatan teknokratik yang pandai dengan ‘ukuran’ itu justru malah dijauhi. Tidak ada studi kelayakan yang pantas terkait dengan ‘program-program konstitusional’ andalan. Jaman Orde Baru ketika jaringan digital-internet belum berkembang, ketersingkapan seakan berjalan lambat. Tetapi sekarang? Dengan inter-subyektifitas yang semakin terbuka melalui jaringan digital-internet maka ketersingkapan itu bisa menjadi begitu cepatnya. Sihir propaganda bahkan jika itu dilakukan dengan kayang atau koprol-pun akan singkat saja khasiatnya. Terlebih ketika inter-subyektifitas itu semakin membangun ‘kepekaan’ terhadap isu kemanusiaan, misal dalam kasus keracunan MBG yang berulang itu. Dimana-mana ketika konstitusi itu berhadapan dengan arus kemanusiaan, konstitusi biasanya akan (dipaksa) ‘ditunda’ lebih dahulu, dan bahkan akan dilihat lagi dari sudut kemanusiaan yang berkembang.
Ketika di Eropa sono doeloe begitu demen dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, tiba-tiba saja dirasakan ada krisis yang menyelusup, yaitu ketika ada klaim bahwa yang obyektif adalah yang serba terukur. Padahal soal rasa-merasa yang taken for granted ditambah dengan bermacam subyektifitas yang dilahirkan dan komplit dengan inter-subyektifitasnya, itu adalah juga obyektif. Atau lihat, ditengah merebaknya teknologi AI, mengapa justru ada pembatasan ketat bagi anak-anak dalam mengakses sosial-media di beberapa negara? Maka bahwa manusia itu ‘mewaktu’ itu memang akan melibatkan waktu dalam arti consciousness of internal time, waktu subyektif, dan waktu obyektif. Dan ketika salah satu atau dua diingkari, dan mengklaim salah satu sebagai ‘satu-satu’-nya maka itulah sebenarnya pintu krisis sudah mulai dibuka. Sadar atau tidak, hari-hari ini semakin nampak bahwa pintu itu semakin terbuka saja. Yang terjadi adalah sedang memperlebar bukaan pintu (krisis) bahkan dengan gegayaan sok-sok-an sedang ‘bermaksud baik’ terhadap republik. Sudah kayak sakit jiwa saja. *** (20-09-2026)
[i] https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/microcosm
