2089. Hidup Di Bawah Mikroskop

21-09-2026

Beberapa tahun ini berkembang sebuah gerakan, anti-facial recognition movement. Seakan apa yang ditulis George Orwell dalam novel 1984 tentang Big Brother yang terus saja mengawasi semakin mendekati kenyataaan saja. Dan untuk itu perlu dilawan. Tetapi bukankah dari hari ke hari kita memang selalu saja ‘diawasi’, oleh norma-norma sekitar misalnya? Sehingga sering kita harus memasang topeng[1] demi untuk menyesuaikan dengan norma-norma itu? Bagi Freud ‘pengendalian’ nafsu sexual penting dalam tertib tatanan. Dan bagaimana itu kemudian ‘disalurkan’ ke bermacam hal bisa menjadi cerita lainnya. Juga sebenarnya nafsu-nafsu atau gejolak hasrat lainnya yang ada dalam id atau di bagian tidak sadar. Masalahnya kita hidup tidak sendirian saja, tetapi bersama dengan yang lain juga, komplit dengan segala perjalanan panjang bersamanya. Yang sadar atau tidak akhirnya terbangun pula bagian tidak sadar-nya, unconscious collective. Di dalam unconscious collective menurut Jung -murid, sahabat Freud yang kemudian berpisah, ada bermacam archetype. Archetype berasal dari kata arche-type, original pattern atau pola awal, yang dengannya manusia akan terbantukan dalam berelasi dengan dunianya. Ada sekitar 12 arketipe yang diidentifikasi, salah dua-nya adalah the hero (sang pahlawan) dan the caregiver (sang pengasuh).

Yang dimaksud ‘hidup di bawah mikroskop’ adalah hidup seakan terus saja diawasi dari segala arah, bahkan sampai detail-detail termasuk masa lalu yang merasa kok terus saja diulik-ulik, bahkan ada yang keranjingan membingkai sebagai sosok monster. Tidak hanya itu, norma-norma yang ada di masyarakat juga dirasakan tidak hanya ‘mengawasi’ tetapi juga ‘menghakimi’ terus kehidupan pribadinya. Topeng-topeng yang dipasang seakan terus saja berhasil ditembus. Apakah kondisi seperti ini mungkin saja mendorongnya ketika berhubungan dengan dunia sekitar maka ia lebih mengambil arketipe sebagai sang-pahlawan dan sang-pengasuh untuk ‘mengkompensasi’ bermacam ‘penghakiman’ di bawah mikroskop itu? Dan kemudian menjadi begitu sensitifnya ketika heroisme dan kepengasuhannya dipertanyakan? Atau ketika ‘maksud baik’-nya dipertanyakan? Di awal-awal Reformasi 25 tahun silam sering muncul dalam diskusi mana yang lebih penting, aktornya atau sistemnya? Bertahun terakhir meski disepakati bahwa soal sistem itu sangat penting, tetapi soal actor nampaknya harus diperhitungkan dengan sangat-sangat serius. Dan ternyata tidak hanya soal kapasitas intelektual-ideologi saja, tetapi juga keseluruhannya sebagai seorang individu.

Dalam perang tanpa pertumpahan darah ini tetaplah berlaku bahwa untuk memenangkan seratus peperangan, kenalilah musuhmu dan dirimu. Maka ketika rute heroisme dan kepengasuhan ini dikenali oleh musuh-musuhnya misalnya, jangan kaget jika itu kemudian ‘dieksploitasi’ dalam salah satu konteksnya: dijerumuskan, di-blondork-é (Jw.). Jika kita lihat bermacam peristiwa baik di republik maupun belahan dunia lainnya, seakan era post-truth itu kemudian menjadi pintu masuk untuk melakukan ‘eksploitasi hasrat-emosi’ dalam mencapai tujuan politik. Lalu bagaimana menghadapi para ‘eksploitator hasrat-emosi’ ini?

Yang pasti adalah, itu tidak bisa dihadapi sendirian, harus dihadapi secara ‘kolektif’. Artinya bagaimana ‘orang-orang sekitar’ itu memang benar-benar paham dan juga mengenali siapa musuh dan juga siapa dirinya, baik secara per individu masing-masing maupun secara ‘kolektif’. Hadirnya orang-orang sekitar lebih sebagai penjilat atau ABS mestinya dilihat bahwa itu bukanlah kebetulan saja. Tetapi bagi republik, hal-hal di atas harus mulai dibuka dan dibicarakan secara terbuka pula karena yang sedang dipertaruhkan memang tidak main-main. Khalayak para pembayar pajak terhormat harus mulai mengambil ‘batas toleransi’ terhadap segala ketidak-mampuan mengenal diri, ketidak-mampuan dan ketidak-mauan ‘mengendalikan diri’. Memangnya republik ini republik mbah-mu?! Jelas tidak, cuk … *** (21-09-2026)


[1] https://www.youtube.com/watch?v=palz438KT3Y atau https://www.youtube.com/watch?v=s5ZYlIb4dF8 atau https://www.youtube.com/watch?v=sa-MK_mpGBc

2090. Kecemasan Yang Dibajak

23-09-2026

Ketika usia semakin menua, bisa saja kecemasan mulai merangkak naik ke permukaan. Ketika kematian dirasa semakin mendekat, dan segala kemungkinan menjadi tidak mungkin lagi. Apalagi ditambah dengan pengetahuan bahwa tempat ia hidup potensi untuk bubar semakin membesar pula. Ditambah melihat masih banyak anak-anak kurang gizi membuat kecemasan semakin meningkat. Belum lagi kekayaan alam yang mestinya bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama malah hanya dinikmati segelintir pihak saja. Bermacam kecemasan ini seakan melebur pada ‘kecemasan besar’ yang dirasakan menjadi tidak jelas apa yang sebenarnya yang dicemaskan. Intinya, kecemasan itu selalu saja mengiringi langkah.

Tetapi kecemasan itu berkah atau laknat? Apapun itu kita bisa bertanya, bagaimana jika manusia tidak pernah sama sekali cemas? Maka kecemasan itu bukan soal berkah atau laknat, tetapi bagaimana kita mengantisipasinya. Saat kematian dilihat sebagai kemungkinan yang secara ekstrem akan meniadakan segala kemungkinan -sehingga sangat bisa kita ‘dipaksa’ untuk cemas, apa antisipasi kita? Apa antisipasi kita ketika kematian menjadi horizon? Kematian yang harus dihadapi sendiri dan tidak bisa diwakilkan pada siapapun itu? Dan kita tidak tahu kapan datangnya? Apakah kita akan bersikap seperti biasanya saja toh pada akhirnya kematian itu akan datang juga, atau justru dengan kematian sebagai horizon itu adalah ‘kesempatan’ untuk menegaskan diri siapa saya itu? Saya yang akan membuat keputusan-keputusan dan menjalaninya tidak karena yang banyak di sekitar ‘mendikte’-nya untuk begini dan begitu?

Tetapi bagaimana jika di sekitar selalu saja keceriaan yang muncul, bahkan dari yang usianya jauh di bawah saya? Tidak hanya mirror-neuron system terstimulasi dengan itu secara terus menerus, tetapi bagaimana jika itu juga perlahan mengulik hasrat akan ‘keabadian’? Keceriaan yang bahkan juga hadir kadang dalam nuansa manja-manja-an dan membuat hasrat akan kekuasaan seksual menjadi bangkit dan menemukan gairah barunya? Belum lagi ditambah lingkaran dekat yang lebih sering melakukan penjilatan-penjilatan tanpa henti, ABS dilakukan sudah dengan tanpa beban lagi? Dan tiba-tiba saja ada di tangan sebuah kuasa untuk memainken dana begitu besar, ribuan triliun rupiah, misalnya. Yang semuanya itu akhirnya salah satunya membuat dirinya tidak mau (lagi) disebut: mbah atau éyang.

Apakah itu membuat kecemasan kemudian menjadi melenyap? Dan ketika memang benar kecemasan melenyap, apakah ketika membuat bermacam sikap atau keputusan sebagai antisipasi kemudian ada dalam dendang business as usual saja? Tidak beda dengan yang lain-lain? Heidegger views anxiety not just as another emotional state but as a fundamental mood that reveals profound truths about the nature of human existence.[1] *** (23-09-2026)


[1] https://www.theguardian.com/commentisfree/belief/2009/jul/13/heidegger-being-time

2091. Suatu Saat di Layar TV

23-09-2026

Dari pihak penguasa, dengan upaya besar berusaha membangun istana sihir propagandanya. Bahwa rejim sudah melakukan ini dan itu, dan betapa mak-nyus-nya pemerintah dalam mengelola negara. Segala urutan kata yang keluar dari mulut dimaksudkan untuk menyihir khalayak kebanyakan supaya taken for granted saja percaya sama (prestasi) pemerintah. Maunya mengurung khalayak dalam sihir kata-katanya. Yang satu begitu ketat menjabarkan hal-hal mendasar, apa yang menjadi esensi sesuatunya. Apa yang jauh di sana menjadi dasar dari keputusan dan kebijakan. Dan berulang di banyak kesempatan ia menekankan bahwa sedang terjadi pergeseran mendasar dalam mengelola negara. Sedang terjadi pergeseran paradigma. Di pihak lainnya menyorot terkait dengan bagaimana hal-hal mendasar itu dioperasionalkan. Tentang bagaimana itu dioperasionalkanpun terbuka untuk diperdebatkan, tidak hanya hal-hal mendasar itu, demikian tegasnya.

Peristiwa di layar TV kemarin itu tidak terjadi di rentang kampanye, atau katakanlah ‘perebutan kuasa’, tetapi ada di rentang ‘penggunaan kuasa’, yang menurut Machiavelli bisa saja sangat berbeda. Di rentang bagaimana kuasa akan digunakan, menurut Machiavelli, diperlukan virtu, yaitu kemampuan untuk mengantisipasi bermacam situasi yang berubah-ubah. Atau menurut Émile de Girardin (1802 – 1881), ‘to govern is to foresee’ (Gouverner, c'est prévoir). Maka memang (persepsi tentang) hal-hal mendasar menjadi penting karena itu akan juga menentukan apa-bagaimana antisipasi yang akan dibangun. Tetapi bagaimana kita berdebat soal ‘warna merah’ misalnya, tentang panjang gelombangnya? Tentang jika dicampur dengan warna A maka akan terjadi warna B atau C? Sementara warna merah itu sendiri baru bisa dihayati ketika menempel pada kursi, meja, atau pelangi? Katakanlah terkait ‘hal mendasar’ itu kita bicara soal ideologi, bagaimana kita bisa bicara soal ideologi? Bukankah pada akhirnya bisa lebih dibicarakan ketika melekat pada kebijakan-keputusan-eksekusi atau perilaku, misalnya? Kata Marx, kaum filsuf itu pandai mengintepretasikan dunia, tetapi yang lebih penting adalah mengubahnya.

Bahkan ketika bicara soal ‘diri’-pun akan melibatkan ketiga nuansa rute perdebatan di atas, jika kita bicara soal ‘diri’ di ranah publik. Di ranah sihir, diri bisa dipermak sedemikian rupa sehingga bablas berubah menjadi sihir magis melalui pernak-pernik pakaiannya misalnya. Atau juga segala litani puja-puji yang terus dilantunkan oleh orang-orang sekitarnya. Diri yang ‘asli’ seakan menghilang karena sudah menjadi sihir itu sendiri. Sihir yang maunya ‘mengurung’ khalayak. Tetapi ada yang mau ‘gaya’ lain, sihir diolah tidak melalui pernak-pernik di luar diri, tetapi hanya melalui apa adanya dia. Aku ini ya memang seperti ini (dan emangnya lu terus mau apa?). Lupa bahwa ia ada di ruang publik dimana ketika ‘diri dioperasionalkan’ seperti itu maka jelas tidak hanya dampak (publik) yang akan diperhitungkan, tetapi ‘diri’ yang seperti itupun terbuka untuk dipersoalkan juga. Ketika di ruang privat keranjingan bicara kasar misalnya, konsekuensinya mungkin saja menjadi tidak punya teman saja, tetapi di ruang publik ranah olah kuasa negara dimana ia adalah juga sik-pemegang capital (simbolik) tertinggi? Jika memakai istilah Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, hal di atas bisa dibayangkan ia sedang dalam mode bablasan tahap ontologis, substansialisme. Yang dalam tahap fungsionil bisa saja menggandeng bablasannya juga, operasionalisme. *** (23-09-2026)

2092. Memancing di Kolam Kesadaran Temaram

24-09-2026

“The twilight state of mind, as an animal heritage, is partly a function of subconsciousness, i.e. instincts and irrational impulses, but partly also a function of man’s rational faculty and its specific limitations,” demikian dikatakan Hermann Broch (1886 – 1951) dalam A Study on Mass Hysteria. Ternyata di bagian bawah sadar yang menurut Freud itu merupakan bagian terbesar dari kesadaran, ada bagian yang dikatakan oleh Herman Broch sebagai twilight state atau kesadaran remang-remang/temaram seperti dikatakan pada awal tulisan ini. Broch melihat massa tidak sebagai satu entitas tersendiri, tetapi lebih melihat bagaimana kesadaran temaram yang ada dalam masing-masing inividu itu kemudian ‘berubah’ menjadi ke kesadaran massa. Jadi titik tolaknya tetap sik-individu. Sekitar seratus tahun kemudian, kita bisa membayangkan apa yang terjadi dalam Skandal Cambridge Analitika sekitar sepuluh tahun lalu. Ketika jutaan data pengguna Facebook bocor, dan kemudian dikelompok-kelompokkan dalam ‘kelompok psikologis’ tertentu, maka kemudian dikirimlah ‘pesan-pesan’ yang sudah disesuaikan pada masing-masing kelompok itu via jaringan digital-internet, khususnya melalui sosial-media. Bagaimana kemenangan Brexit dan Trump periode satu ditengarai salah satu kontribusi pentingnya melalui ini. Artinya, ke masing-masing individu. Bahwa ketika itu kemudian turun secara kongkret di ‘dunia nyata’ space of places dan kemudian masuk dalam ‘emotional contagion behaviour’, itu tidak menghilangkan bahwa sebelumnya masing-masing individu itu ‘sudah digarap’.

Wilhelm Reich (1897 – 1957) seorang pengikut Freud menengarai merebaknya fasisme di Jerman doeloe itu salah satunya adalah adanya eksploitasi ke-tidak-sadar-an, atau juga id dalam term Freudian. Atau kalau kita membayangkan melalui istilah Amy Chua dalam Political Tribes (2019), nuansa tribalisme itu dibangun seiring dengan digelembungkannya an instinct to exclude. Harold J. Laski dalam The State in Theory and Practice (1935) menambahkan perspektif lain, bahwa fasisme itu bisa saja merupakan ‘solusi’ dari adanya dilemma terkait dengan ambil untung dan tuntutan pemerataan kesejahteraan terutama dari kaum buruh. Jadi bisa saja fasisme itu adalah juga alat untuk mempertahankan dan bahkan juga untuk menumpuk kekayaan yang gila-gilaan.

Dengan tambahan pendapat Hermann Broch tentang ‘kesadaran temaram (twilight state)’, maka sebenarnya jika kita bicara soal bawah sadar yang merupakan bagian besar dari kesadaran, kita bisa bertanya, apa yang akan ‘dipancing’? Apakah soal insting dan impuls-impuls irrasionalnya? Ataukah meski merupakan bagian kecil dan terbatas dalam dunia ‘kesadaran temaram’, soal rasionalitas-nya? Di beberapa tulisan sebelum ini disinggung soal pentingnya retorika, dan itulah peran penting retorika yang baik dan tepat, yang mampu juga mengulik sisi rasionalitas yang serba terbatas itu. Tidak mudah ‘mengemas’ retorika seperti ini karena seperti peringatan Toynbee dalam ‘hukum’ psikologi perjumpaan budaya, yang nilainya ‘rendah’ akan lebih mudah menembus tetapi yang nilainya ‘tinggi’ justru akan banyak resistensinya. Maka tidak ada jalan lain selain konsistensi dan koherensi dalam bermacam kesempatannya, maka itu semestinya diulang dan diulang: repetitio est mater studiorum.

Duabelas tahun terakhir termasuk dua tahun terakhir ini, republik telah menyediakan diri sebagai bahan pelajaran terkait bagaimana ketika retorika hadir dalam kelas terendahnya. Komplit dengan segala akibat buruknya. Dan semakin tersingkap saja bahwa itu bukannya kebetulan saja, tetapi jelas by design menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya tanpa henti perampokan republik. ‘Pembunuhan berencana’ terhadap retorika itu ujungnya adalah penguasaan republik oleh orang-orang yang sebenarnya tidak beradab. Sama sekali tidak punya keadaban publik. Dan karena itu bisa dengan enteng-enteng saja membunuh retorika itu.

Peristiwa ketika yang di atas podium mengatakan ‘pakar goblok’ dan terus tidak hanya tepuk tangan tetapi yang di podium itu malah dielu-elukan, disebut namanya secara ‘histeris’, akan menjadi contoh klasik bagi generasi mendatang bagaimana republik pernah menjadi begitu gelapnya. Pernah menjadi begitu goblok dan barbar-nya. Contoh klasik bagaimana yang di atas podium ini tidak sadar sedang dijerumuskan, sedang dipermainkan, dan bahkan sedang diperbudak. Sangat mudah sebenarnya melihat bagaimana tepuk tangan itu diorkestrasi, bagaimana gelora elu-elu dan nama diteriakkan berulang itu: dikomando. Umur biologis boleh saja sudah menua, tapi sayangnya, umur psikis-nya ternyata masih anak-anak. Dan republik yang kita cintai ini ternyata sedang dipertaruhkan di tangan anak-anak. Anak-anak yang belum terlatih mengendalikan bermacam gejolak yang ada di bawah sadar itu. Anak-anak yang masih perlu banyak latihan soal empan papan. Anak-anak yang masih mudah ditipu. Mudah dijerumuskan. Mudah di-blondrok-é. *** (24-09-2026)

2093. Bla-bla-bla ...: An Infantile Disorder

25-09-2026

Lebih seratus tahun lalu, Lenin menulis “Left-Wing” Communism: An Infantile Disorder, berisi bagaimana harus bersikap terkait soal merebut kekuasaan dan saat mempertahankan kekuasaan dalam situasi-situasi yang berbeda-beda. Jika Machiavelli menekankan virtu di saat menggunakan kekuasaan, maka Lenin menyarankan bahwa itu bisa digunakan juga saat merebut kekuasaan. Virtu yang dimaksud Machiavelli adalah kemampuan untuk mengantisipasi situasi yang berubah-ubah. Atau dalam kata-kata si-Bung, revolusi itu perlu romantika, dinamika, dan dialektika -rodinda. Atau kalau kita bayangkan hari-hari ini, ke-infantile disorder-an itu ya ketika hanya berhenti pada romantika saja. Berhenti pada thang-thung-thang-cret saja. Paling banter sampai pada mak-crot. Ketika suara menjadi serak karena terlalu banyak teriak-teriak. Akhirnya? Kalau kita bicara ideologi misalnya, maka yang dibicarakan sebenarnya hanyalah ideologi kenang-kenangan saja.

Apakah romantika tidak penting? Pastilah penting, tetapi dalam hal ini sebenarnya ia menjadi tidak terjelaskan ketika dilepas dari dinamika dan dialektika. Romantika dalam hal ini bukanlah dahan yang bisa dihayati lepas dari pohonnya. Demikian juga soal dinamika dan dialektika. Penghayatan akan ‘the whole’ seperti ini mestinya perlu latihan dan latihan yang ujung dari latihan ini adalah sebuah kematangan, sebuah kedewasaan, dan jelas bukan an infantile disorder. Bayangkan jika kita membaca buku, dan ketika kita masih ‘muda’ mungkin saja yang distabilo adalah kata-kata yang meledak-ledak. Tetapi seiring waktu dan bertambahnya pengalaman, bertemu dengan bermacam pihak, jika buku itu kita baca lagi mungkin saja yang distabilo bertambah atau berubah.

Dalam ‘perang tanpa pertumpahan darah’, dinamika itu adalah seperti dikatakan oleh Sun Tzu, kenalilah dirimu dan musuhnya maka seratus peperangan akan dimenangkan. Kenalilah dirimu lebih dari sekedar mengambil waktu untuk retret misalnya, tetapi juga saat dibentur-benturkan pada situasi yang terus berubah. Termasuk juga ketika musuh berubah-ubah, dalam bermacam aspeknya. Entah dalam pertempuran itu ternyata kalah, atau menang yang tertunda, atau menang, maka ‘situasi baru’ ini haruslah menjadi sebuah ‘tesis’ baru yang akan mengundang ‘anti-tesis’-nya. Maka dinamika-pun dibawa ke ‘level’ yang berbeda pula. Dan semua itu akan mendapatkan energi yang terus terbarukan salah satu yang penting adalah lewat romantika.

Dalam ranah olah negara, bagaimana ro-din-da ini bisa terhayati oleh khalayak kebanyakan? Lewat retorika yang hadir dalam bermacam kesempatan dan pelembagaannya, terutama dalam lembaga-lembaga negara dan perilaku pengelola negaranya. Dalam bermacam lembaga-lembaga negara itulah bermacam ‘bahasa tubuh’ dari retorika-retorika akan menemukan bentuknya. Juga dalam perilaku sik-pengelola negara. Ketika ketiga hal di atas ‘tidak nyambung’, antara retorika-(‘bahasa tubuh’) lembaga negara-perilaku pengelola negara, maka dapat dipastikan wabah infantile disorder sedang menyerang. Seperti sudah berlangsung sejak bertahun terakhir. Juga hari-hari ini. Mengapa bisa begitu? Karena ke-tidak-nyambung-nya ketiga hal di atas maka ketika menghadapi ‘ujian awal’ terhadap kemampuan dalam menghadapi situasi yang berubah-ubah, pagi-pagi sudah dapat dipastikan ‘tidak lulus ujian’. *** (25-09-2026)