02-10-2026
Ada yang begitu demen menjadikan kerumunan sebagai andalan. Ini bukan hanya sekedar gejala populisme, tetapi memang kerumunan sudah menjadi ‘senjata’ ujung tombak permainan. Dan itu ternyata sambil mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Dalangnya berharap tidak hanya soal popularitas atau dukungan, tetapi juga sekaligus bagaimana menghancurkan republik. Memperlemah republik. Kegilaan dalam merampok republik itupun sudah sampai pada kegilaan lain: kalau perlu republik dipecah-belah asal tetap dikuasai, balkanisasi -setelah dilemahkan. Itu Plan-B-nya. Caranya? Salah satunya ya (maunya) dibuat bodoh melalui permainan kerumunan itu.
Ada yang mulai membuka kasus, Bambang Tri dan Gus Nur. Apapun keluarannya, melalui keduanya ada yang sudah dilempar ke ‘dunia ketiga’-nya popperian itu. Ketika semakin bertambah yang ikut mempersoalkan, masih saja khalayak seperti sedang bicara sendiri, riuh sendiri, sampai trio RRT seakan memukul palu keras-keras di atas meja dan hadirin mulai terdiam, kemudian mulai menengok ke panggung. Dan perlahan sadar atau tidak, kita kemudian mendapat asupan argumentasi yang didukung nalar saintifik kuat. Kemudian hari-hari ini kita melihat bagaimana argumentasi hukum dibangun secara ketat dan tak terbantahkan. Meski ini juga telah dilakukan pada sidang-sidang Roy, Tifa, Bonatua, Bonjowi, Subhan Palal, M. Taufik, Bu Mersi, dan banyak lagi.
Lepas dari kasus ijazah palsu dan surat keterangan kesetaraan abal-abal itu, ada gerak yang semestinya tidak hanya didukung tetapi juga dikembangkan dan terus dijaga, yaitu ketika nalar mengambil tempat untuk melawan logika kerumunan. Kerumunan itu laksana ‘energi licin’ yang siap menerjang siapa saja, masuk ke pori-pori dan perlahan akan ikut menentukan. Padahal di belakang kerumunan, apalagi jika ‘tidak berjarak’ dengan yang di depannya, lebih akan sebagai gumpalan hasrat dibandingkan dengan keberpikiran. Satu contoh ‘klasik’ yang akan diputar ulang dan ulang sebagai bahan studi generasi mendatang adalah ketika ada yang bicara di atas podium dan mengatakan dengan segala energinya bahwa pakar itu semakin pintar malah menjadi goblok. Dan tidak hanya tepuk tangan, tetapi kerumunan partai yang di depan itu malah mengelu-elukan namanya, seakan menjadi histeris saja. Dan lihat lagi bahasa tubuh yang di atas podium itu, seakan sedang ‘dimakan’ begitu saja oleh kerumunan. Bayangkan dalam kerumunan itu ada ‘penyusup-provokator’ yang dengan sengaja tidak hanya memulai tepuk tangan tetapi juga dengan lantang mulai meneriakkan nama yang di atas podium itu. Jadi yang namanya ‘provokator’ itu tidak hanya ada dalam (kerumunan) demonstrasi, cuk. Hal lain bisa saja terjadi, misalnya ada yang mulai melempar botol minuman kosong, bisa-bisa kerumunan itu ramai-ramai akan melempar botol minuman juga.
Inilah yang dimaksud bahwa kerumunan itu dapat sebagai ‘senjata’, salah satunya seperti dalam ‘skenario’ di atas. Atau di kesempatan awal-awal setelah seorang menteri keuangan dilantik, mendapat sambutan karena ceplas-ceplos-nya. Dan bahkan di kemudian hari ketika ia datang di satu tempat disambut oleh kerumunan ‘penggemar’-nya, dan bahkan pula ada yang minta tanda tangannya segala. Wajar? Bisa ya bisa tidak, wajar karena di era serba banyak-banyakan ‘like’ ini memang begitu, tidak karena ada yang sedang menggelembungkan hasrat sik-menteri dengan kerumunan sebagai senjatanya, sedang di-blondrok-é, dijerumuskan. Dan banyak lagi bagaimana contoh kerumunan dimainken sebagai ‘senjata’.
Maka jika boleh menyarankan, jika tidak mau atau bisa mengurangi jumlah menteri, jangan pernah lagi menampakkan kepada publik ‘kerumunan rapat paripurna’ kabinet yang isinya bisa mencapai seratusan orang itu. Apalagi nuansa rapat akan lebih banyak kata-kata: siap, pak. Tampilkan saja pada publik rapat kabinet yang menampakkan rapat koordinasi sembilan kementrian saja, dengan asumsi dihadiri oleh sekitar 9 menteri dan 9 wakilnya. Staf nggak usah ikut-ikutan rapat. Sebagai perbandingan, dalam satu kelas pendidikan sampai SMA, menurut penelitian itu hanya akan efektif ketika jumlah murid 18-24 siswa saja satu kelasnya. *** (02-10-2026)