2094. Ketersingkapan

26-09-2026

Yang dilakukan tokoh-tokoh pergerakan doeloe itu salah satunya adalah menyingkap apa yang terjadi. Bagaimana penjajahan itu bekerja. Dan bagaimana melawannya. Mengajak yang banyak untuk sadar terkait dengan apa-apa yang sudah tersingkap itu bukanlah pekerjaan mudah. Bukannya tanpa resiko. Dalam banyak halnya, penyingkapan sesuatu itu bisa berarti juga horizon dimajukan. Ketika horizon dimajukan, tidak hanya bermacam kemungkinan ‘bertambah’, tetapi juga semakin menampakkan diri. Bambang Tri dan Gus Nur terkait dengan kasus ijazah palsu dengan segala yang ada pada dirinya berusaha menyingkap sesuatu, sayangnya resikolah yang justru diterima ketika ‘orang itu’ masih berkuasa secara de jure dan de facto. Tetapi perlahan horizon khalayak-pun sudah sedikit dimajukan, dan ketika yang lainnya mulai berusaha menyingkap dengan caranya sendiri-sendiri, perlahan pula horizon semakin dimajukan dan dimajukan. Kasus ijazah palsu itupun semakin tersingkap pula. Seperti dikatakan Toynbee dalam hukum psikologi perjumpaan budaya-budaya: yang satu akan membawa yang lain, kasus ijazah palsu ini se-bising apapun (yang kadang dikeluhkan sementara pihak, tetapi menurut penulisa ya nggak apa-apa bising. Itu seperti mengetuk palu keras-keras ketika audiens bicara sendiri-sendiri), ternyata telah ‘membawa yang lain’ pula. Yang bisa saja dulu tidak pernah diprediksi sebelumnya.

Tetapi ada yang perlu diperhatikan di sini dalam hidup bersama sebagai suatu bangsa, yaitu terkait dengan apa respon terhadap (bermacam) ketersingkapan itu? Jika kita bicara ‘prakondisi sosial’ respon terhadap bermacam ketersingkapan itu akan memainkan peran pentingnya ketika kita bicara sains misalnya. Atau perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya. Sains dan ilmu pengetahuan katakanlah akan menjadi sebuah ‘lembaga’ yang terdukung nantinya jika kita memberikan ‘ekosistem yang layak’ terhadap ketersingkapan. Juga apa yang disebut sebagai ‘kejujuran intelektual’ itu dipastikan tidak di ruang kosong. Inilah yang juga dipertaruhkan sebagai bangsa ketika berbagai upaya penyingkapan ini kemudian dihadapi dengan segala kekuatan at all cost, terutama kekuatan uang dan kekerasan. Yang dipertaruhkan adalah potensi hidup bersama untuk lebih mampu mengembangkan sains dan ilmu pengetahuan di masa depannya.

Sudah sekitar 12 tahun ini seakan hidup bersama di republik semakin dijauhkan saja dari sains dan ilmu pengetahuan. Negara dikelola seakan tanpa menganal lagi apa itu sains dan ilmu pengetahuan. Padahal menurut Alvin Toffler, abad-21 ini tidak hanya merupakan Abad Informasi, tetapi juga Abad Pengetahuan. Kekuatan pengetahuan-lah yang semestinya maju paling depan. Apakah ini karena ‘jalan fasisme’ itu cenderung anti-intelektualisme? Bisa ya dan tidak. Tidak karena ini bukan soal fasisme atau bukan, tetapi adalah soal: menghancurkan republik. Republik yang akan dipecah-belah. Semakin ke sini semakin nampak bahwa tugas dari ‘orang itu’ yang terbelit kasus ijazah palsu (dan juga surat keterangan kesetaraan abal-abal) adalah menghancurkan republik untuk supaya lebih mudah dikuasai. Jika ini masih belum dirasakan aman, maka Plan B: republik dipecah jadi kecil-kecil. Kejam dan brutal. *** (26-09-2026)