2114. Standalone Socialism

17-10-2026

Hari-hari ini Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuat panas dingin republik dengan melansir kemungkinan bursa saham di republik masuk terjun ke kategori standalone market. Beberapa kriteria ada dalam MSCI, seperti developed market, emerging market, frontier market, dan standalone market. Yang terakhir ini seakan sedang dihukum berdiri sendiri di luar kelas. Banyak analisa mengapa ‘ancaman’ ini dilansir oleh MSCI, tetapi rata-rata karena ya salah pengelola bursa saham itu yang tidak kunjung memperbaiki diri. Terutama dalam ‘mendisiplinkan’ yang nakal-nakal di bursa. Judul mengambil istilah di atas: standalone. Standalone socialism? Mengapa tidak? Sebenarnya judul tulisan rencana awal-nya adalah Aèng-aèng Socialism, tetapi dirasa-rasa kok kurang keren.

Judul dimaksudkan bahwa yang kita bicarakan soal sosialisme ini adalah sosialisme yang sedang disetrap, sedang disuruh berdiri di luar ruang kelas sosialisme. Siapa yang ‘menghukum’? Paling tidak ada -katakanlah, sebagian dari sik-socius itu. Jadi bukan MSCI. Mengapa disuruh keluar kelas lebih dahulu? Karena hal-hal yang diklaim mengalir dari ide sosialisme ini justru sadar atau tidak telah mengalami reifikasi di sana-sini, diperlakukan layaknya sebagai komoditas saja. Sebagai benda saja. Jadi sosialisme dalam ide, tetapi dalam praktek sudah dijinakkan habis-habisan. Bahkan selama dua tahun ini, bukan bourgeois socialism yang berkembang, tetapi rent-seekers socialism. Gegayaan sok sosialis, padahal aslinya sedang ber-rent-seeking activities ria. Rusak-rusakan as usual.

Mengapa sosialisme a la ini menjadi begitu mudah dijinakkan? Salah satu yang bisa kita pelajari selama ini adalah karena malas. Malas dalam segala hal. Bahkan untuk berpikir-pun malasnya minta ampun. Jadi akhirnya yang muncul adalah sosialisme ‘jalan gampang’. Bahkan tidak hanya itu, nyaris yang muncul adalah sosialisme abracadabra sim-sa-la-bim. Mungkin dikiranya Bandung Bondowoso itu seorang sosialis. Maka jika ini ada dalam peperangan, dapat dipastikan akan kalah dalam peperangan. Bahkan kalah sebelum bertanding. Kalah sebelum berperang. Lha mengenal diri-pun tidak bisa. Tidak mampu. Tidak mau. Jadinya, semau-maunya. Akhirnya? Ya standalone itu.

Dalam banyak halnya, ber-ideologi itu akan ada dalam ‘satu tarikan napas’. Ketika kita ada di sekarang ini, endapan-endapan, sedimen-sedimen ‘ideologis’ masa lalu tidaklah terus menghilang, ia seakan mengalami retensi. Dan yang akan datang-pun seakan sudah kita antisipasi kehadirannya. Tetapi ideologi akhirnya harus berujung pada sebuah praxis, terutama antisipasi terkait hal-hal yang begitu mengusik rasa-merasa ideologis kita. Maka kita kemudian melihat hal tersebut dari segala aspeknya, profilnya, sisinya, misalnya, sehingga hal tersebut semakin menampakkan dirinya. Tetapi kita tidak berhenti dalam ‘mengintepretasikan’ hal tersbut, karena yang terpenting adalah mengubahnya. Maka masuklah kita pada praksis yang sebenarnya. Praksis yang tidak hanya soal praktek, tetapi juga mau dan mampu untuk melakukan kritik-otokritiknya. Mampu berkembang dalam penghayatan barunya. Dari hal-hal di atas maka jelas ideologi itu bukan soal hal-hal yang dipigura atau dibuatkan patung-patungnya, atau dipidatokan saja, tetapi baru bisa dihayati pada praksis. Pada perilaku, pada keputusan-kebijakan, komplit dengan eksekusinya. Dan sekali lagi, komplit dengan kritik-otokritiknya.

Apa yang terjadi selama dua tahun ini, sosiaalisme barulah sampai klaim-klaim saja. Baru sebagai ideologi kenang-kenangan saja. Sosialisme yang tidak tahu bahwa dalam praksis-lah ia akan diuji dan diuji. Kalau modal ‘maksud baik’ saja sudah minta tepuk tangan gegap gempita, ya … sulit, angèl. Jika maunya begitu, alangkah nikmatnya hidup ini … Maka, bersatulah kaum sosialis se-dunia. Untuk apa? Untuk ngajarin kaum ‘sosialis-sosialis’ kepala batu ini, supaya bisa masuk ‘kelas’ lagi, tidak terus-terusan celingak-celinguk standalone di luar ‘kelas’. Jika dibiarkan gini-gini terus, maka jika ada pemeringkatan sosialis ter-kucluk se-dunia, bisa-bisa akan masuk sebagai finalis-nya. Pecas ndahé, cuk … *** (17-10-2026)