2124. Duapuluh Delapan Tahun Lalu dan Kemudian

29-10-2026

Bagi yang duapuluh delapan tahun lalu berpendapat Golkar semestinya dibubarkan, hari-hari ini mungkin saja secara telanjang menemukan bukti-bukti alasannya. Benar kan …, demikian mungkin yang ada dalam hati. Tetapi nasi sudah jadi bubur, maka jangan sampai mengulangi ‘kesalahan’ sama. Dalam konteks apa misalnya? Hari-hari ini salah-duanya adalah terkait dengan kasus surat keterangan kesetaraan abal-abal dan kasus ijazah palsu. Jika sepuluh-duapuluh-tigapuluh tahun nanti tidak mau dipertanyakan oleh generasi mendatang, maka sebaiknya yang hidup hari-hari ini berjuang sekeras-kerasnya untuk menuntaskan kedua kasus itu.

Partai politik semestinya menjadi tak terjelaskan ketika faktor ‘mengapa ia ada’ dihilangkan. Ideologi misalnya, atau lainnya. Partai Golkar dari perjalanan panjangnya juga demikian. Ia menjadi ‘tidak bisa dijelaskan’ ketika ia berada di luar kekuasaan. Jadi berkuasa atau ikut berkuasa akan sangat menentukan. Ini akan berakibat ‘kualitas’ partai akan sangat ditentukan oleh yang sedang berkuasa. When small men attempt great enterprises, they always end by reducing them to the level of their mediocrity demikian pernah dikatakan Napoleon Bonaparte, dan menjadi partai dengan rasa kualitas medioker-pun akan segera saja melekati ketika sik-penguasa kelasnya juga medioker. Inilah yang perlahan terjadi dalam tubuh Partai Golkar ketika ia ikut berkuasa dalam olah kuasa kaum medioker sejak 12 tahun lalu, terutama sejak 7 tahun terakhir. Dan hari-hari ini republik sedang dipertaruhkan oleh mediokernya kader-kader unggulan mereka yang ada di kabinet. Medioker karena tidak paham apa-apa yang sedang dipertaruhkan republik terkait dengan segala polah-tingkah mereka itu. Yang mereka sangat paham bahwa kuasa di tangan itulah yang (satu-satunya) sedang mereka pertaruhkan. Mereka akan selalu melakukan apa saja demi kuasa yang memberikan segala kenikmatan itu, selalu di tangan. Apa saja, bahkan jika republik harus dipertaruhkan sekalipun.

Maka menuntaskan kasus surat keterangan kesetaraan abal-abal dan kasus ijazah palsu anak-bapak hari-hari ini adalah salah satu upaya penting memotong ‘jebakan kemediokeran’ dalam olah kuasa negara. Menjadi medioker tentu bukan dosa, tetapi di ranah olah kuasa negara? Lihat bagaimana rusak-rusakannya lembaga-lembaga negara terutama lembaga apparat penegakan hukum karena penguasa kelas medioker yang tidak paham apa yang sedang dipertaruhkan itu. Semau-maunya demi untuk melindungi atau mempertahankan segala kenikmatan yang sudah di tangan. Jika kita gagal menuntaskan kedua hal di atas hari-hari ini maka ‘perlombaan menuju ke dasar’ itu akan semakin cepat saja. Dan generasi-generasi mendatang akan menghakimi kita dengan tanpa ampun lagi. *** (29-10-2026)